***
Langit membentang tiada batas, luas,
gelap, hitam dan pekat. Namun tak sedikitpun mengurangi keindahannya. Tampak
tersusun rapi dari buyaran bintang yang memancarkan cahaya, dengan setiap
kerlipan penerang jiwa. Seperti sebuah harapan, dan mimpi mimpi manusia laksana
terkemuka. Allah SWT menciptakan alam untuk kita nikmati segenap potensi
didalamnya. Namun, bukan berarti melalaikan apa yang menjadi hak alam sehingga
sama seperti kita, sejatinya manusia ingin terus hidup dan alam tetap lestari.
Dulu ketika saya kecil,masih bisa menikmati dinginnya pagi
di lapangan luas, segarnya embun pagi di padang rumput. Setiap pagi bangun dan
selepas shalat shubuh berkejaran dengan teman berlari menuju lapangan yang
rerumputnya masih hijau dan segar. Tak lupa
kala siang sehabis sekolah ,saya dan teman teman sering menghabiskan waktu bermain dibawah
pohon tanjung yang sangat rindang dekat rumah . Dia pohon yang sangat kuat, dan
rindang. Aneka burung datang untuk berteduh mencari perlindungan dari kejamnya
pembangunan. Setiap saat mereka bernyanyi untuk kami, setiap hari kami
mengambil beberapa lembar daunnya untuk uang modal berbisnis, permainan anak
anak yang hanya dimengerti oleh mereka yang ikut didalamnya. Dan bunga bunga
yang jatuh dari pohon tersebut kami kumpulkan untuk kami masak dalam wajan
wajan kecil kami, orangtua membelikannya untuk kami. Sesekali kami duduk
dibawahnya dan bersandar di pokoknya. Senang sekali mengingat masa itu, tertawa
lepas menikmati indahnya bersahabat dengan alam, yang mungkin saat itu saya
belum sepenuhnya memahaminya.
Lamunan itu kembali menari nari dan
merekam semua kejadian masa kecilku, saya ingat betul saat pertama kali
membanggakan pohon tanjung kecintaanku kepada seluruh teman kelas.
“Selamat pagi teman teman” saya mulai
menyapa teman teman didepan kelas sebelum memulai bercerita. Ya,Bahasa
Indonesia adalah pelajaran untuk hari ini, siswa kelas 6 SD ditugaskan untuk
membuat cerita dan diskripsi tentang barang kesayangan. Saya suka sekali
bercerita, jadi saya sudah menyiapkannya matang matang tadi malam. Saya juga
sudah mempraktekkannya di depan Ibu. Jadi saya sudah tidak takut lagi untuk
bercerita di depan kelas pagi ini.
“Selamat pagi Diana” sorak riuh suara
dari teman teman yang sudah mulai antusias ingin mendengar cerita saya. Karena
untuk hari ini hanya ada 4 anak yang ditugaskan Bu Maya untuk maju
menceritakan, dan kebetulan saya maju untuk yang pertama.
Saya melanjutkan pendiskripsian dan bercerita.
“ Barang kesayangan diana adalah pohon tanjung dekat rumah, bukan milik diana
memang, pohon itu milik tetangga diana,pohon itu sangat besar sekali, pohon
yang indah. kata ibu pohon itu sudah ada saat ibu diana masih kecil, hingga
diana lahir pohon tanjung tersebut masih kokoh berdiri disamping rumah. diana
sangat menyukainya, begitupun teman teman rumah yang diana ajak untuk bermain
dibawahnya. Pohon tanjung yang sangat besar itu membuat diana dan teman teman
betah berlama lama bermain dibawahnya. Daunnya yang kadang jatuh ditanah, akan
diana dan teman teman sulap menjadi uang, bunga bunga yang jatuh akan diana dan
teman teman jadikan masakan di wajan wajan kecil milik diana. Kami bermain
bersama dan sangat sayang pohon tanjung tersebut, kami akan menjaganya sampai
dewasa nanti, kami tidak akan merusaknya. Itu yang selalu dikatakan oleh Ibu ”.
Sambil tersenyum setelah selesai bercerita dan sorak tepuk tangan riuh dari
teman teman kelas, saya berlalu dan duduk kembali.
“ Bagus sekali diana,ayo teman teman,
beri applause yang meriah untuk diana”. Bu Maya mencoba memberi intruksi kepada
anak anak untuk memberi penghargaan dengan tepuk tangan,tanda bahwa cerita yang
disampaikan sangat menarik.
“Cerita Diana bagus, kapan kapan teman
kelas boleh ya main kerumah diana, melihat pohon tanjung?”, celetuk salah satu
teman saya memberi pujian.
“Terimakasih Tiara, diana akan sangat
senang, jika teman teman mau bermain kesana,hehehe”, saya berbalik kebelakang
berterimakasih dan menanggapi pertanyaan Tiara.
“Oke anak anak , dari cerita bagus yang
disampaikan teman kita Diana, manfaat apa yang dapat kita ambil??” Ibu guru
pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia itu mulai berkeliling bangku, memberi
rangsangan kepada anak anak supaya antusias menjawab.
“ kita harus mencintai Pohon, bu? “,
jawab salah satu dari anak kelas kala itu. Sifa adalah siswi kelas 6 yang aktif
dalam menjawab pertanyaan.
“ wah benar sekali jawaban Sifa, kita
harus mencintai pohon. Ibu akan memberi kesempatan lagi bagi yang mau menjawab
dengan jawaban yang berbeda?”, bu Maya masih memberi kesempatan kepada yang
lain untuk menjawab.
“Kita harus menyayangi alam ya bu?”,
lanjut seorang anak lainnya, teman bangku belakang saya bernama Anwar.
“ sangat tepat sekali jawaban anwar”,
Ayooo dijawab bersama, apa isi ceritanya tadi, seperti yang disampaikan oleh
teman kita Sifa dan Anwar?”,Bu Maya yang berintersaksi dengan anak anak dengan
berjalan berkeliling kelas.
Semua menjawab “ Kita harus mencintai
pohon dan menyayangi alam”, serentak anak anak kelas 6 A SD Nusa Indah menjawab
dengan semangat.
Rasanya baru kemaren saya menjadi sosok
anak kecil yang lugu bercerita di depan kelas. Namun sekarang saya sudah
menjadi mahasiswa semester 4 yang tumbuh dewasa seiring berkembangnya zaman.
Rasa rindu akan suasana kampung halaman masa kecil membuat perasaan ingin
bersua kembali muncul dalam hati.
***






0 komentar:
Posting Komentar