RSS

Jangan Musnahkan Masa Ku ( Part One )


***
Langit membentang tiada batas, luas, gelap, hitam dan pekat. Namun tak sedikitpun mengurangi keindahannya. Tampak tersusun rapi dari buyaran bintang yang memancarkan cahaya, dengan setiap kerlipan penerang jiwa. Seperti sebuah harapan, dan mimpi mimpi manusia laksana terkemuka. Allah SWT menciptakan alam untuk kita nikmati segenap potensi didalamnya. Namun, bukan berarti melalaikan apa yang menjadi hak alam sehingga sama seperti kita, sejatinya manusia ingin terus hidup dan alam tetap lestari.
Dulu  ketika  saya kecil,masih bisa menikmati dinginnya pagi di lapangan luas, segarnya embun pagi di padang rumput. Setiap pagi bangun dan selepas shalat shubuh berkejaran dengan teman berlari menuju lapangan yang rerumputnya masih hijau dan segar. Tak lupa  kala siang sehabis sekolah ,saya dan teman teman  sering menghabiskan waktu bermain dibawah pohon tanjung yang sangat rindang dekat rumah . Dia pohon yang sangat kuat, dan rindang. Aneka burung datang untuk berteduh mencari perlindungan dari kejamnya pembangunan. Setiap saat mereka bernyanyi untuk kami, setiap hari kami mengambil beberapa lembar daunnya untuk uang modal berbisnis, permainan anak anak yang hanya dimengerti oleh mereka yang ikut didalamnya. Dan bunga bunga yang jatuh dari pohon tersebut kami kumpulkan untuk kami masak dalam wajan wajan kecil kami, orangtua membelikannya untuk kami. Sesekali kami duduk dibawahnya dan bersandar di pokoknya. Senang sekali mengingat masa itu, tertawa lepas menikmati indahnya bersahabat dengan alam, yang mungkin saat itu saya belum sepenuhnya memahaminya.

Lamunan itu kembali menari nari dan merekam semua kejadian masa kecilku, saya ingat betul saat pertama kali membanggakan pohon tanjung kecintaanku kepada seluruh teman kelas.
“Selamat pagi teman teman” saya mulai menyapa teman teman didepan kelas sebelum memulai bercerita. Ya,Bahasa Indonesia adalah pelajaran untuk hari ini, siswa kelas 6 SD ditugaskan untuk membuat cerita dan diskripsi tentang barang kesayangan. Saya suka sekali bercerita, jadi saya sudah menyiapkannya matang matang tadi malam. Saya juga sudah mempraktekkannya di depan Ibu. Jadi saya sudah tidak takut lagi untuk bercerita di depan kelas pagi ini.
“Selamat pagi Diana” sorak riuh suara dari teman teman yang sudah mulai antusias ingin mendengar cerita saya. Karena untuk hari ini hanya ada 4 anak yang ditugaskan Bu Maya untuk maju menceritakan, dan kebetulan saya maju untuk yang pertama.
Saya melanjutkan pendiskripsian dan bercerita. “ Barang kesayangan diana adalah pohon tanjung dekat rumah, bukan milik diana memang, pohon itu milik tetangga diana,pohon itu sangat besar sekali, pohon yang indah. kata ibu pohon itu sudah ada saat ibu diana masih kecil, hingga diana lahir pohon tanjung tersebut masih kokoh berdiri disamping rumah. diana sangat menyukainya, begitupun teman teman rumah yang diana ajak untuk bermain dibawahnya. Pohon tanjung yang sangat besar itu membuat diana dan teman teman betah berlama lama bermain dibawahnya. Daunnya yang kadang jatuh ditanah, akan diana dan teman teman sulap menjadi uang, bunga bunga yang jatuh akan diana dan teman teman jadikan masakan di wajan wajan kecil milik diana. Kami bermain bersama dan sangat sayang pohon tanjung tersebut, kami akan menjaganya sampai dewasa nanti, kami tidak akan merusaknya. Itu yang selalu dikatakan oleh Ibu ”. Sambil tersenyum setelah selesai bercerita dan sorak tepuk tangan riuh dari teman teman kelas, saya berlalu dan duduk kembali.
“ Bagus sekali diana,ayo teman teman, beri applause yang meriah untuk diana”. Bu Maya mencoba memberi intruksi kepada anak anak untuk memberi penghargaan dengan tepuk tangan,tanda bahwa cerita yang disampaikan sangat menarik.
“Cerita Diana bagus, kapan kapan teman kelas boleh ya main kerumah diana, melihat pohon tanjung?”, celetuk salah satu teman saya memberi pujian.
“Terimakasih Tiara, diana akan sangat senang, jika teman teman mau bermain kesana,hehehe”, saya berbalik kebelakang berterimakasih dan menanggapi pertanyaan Tiara.
“Oke anak anak , dari cerita bagus yang disampaikan teman kita Diana, manfaat apa yang dapat kita ambil??” Ibu guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia itu mulai berkeliling bangku, memberi rangsangan kepada anak anak supaya antusias menjawab.
“ kita harus mencintai Pohon, bu? “, jawab salah satu dari anak kelas kala itu. Sifa adalah siswi kelas 6 yang aktif dalam menjawab pertanyaan.
“ wah benar sekali jawaban Sifa, kita harus mencintai pohon. Ibu akan memberi kesempatan lagi bagi yang mau menjawab dengan jawaban yang berbeda?”, bu Maya masih memberi kesempatan kepada yang lain untuk menjawab.
“Kita harus menyayangi alam ya bu?”, lanjut seorang anak lainnya, teman bangku belakang saya bernama Anwar.
“ sangat tepat sekali jawaban anwar”, Ayooo dijawab bersama, apa isi ceritanya tadi, seperti yang disampaikan oleh teman kita Sifa dan Anwar?”,Bu Maya yang berintersaksi dengan anak anak dengan berjalan berkeliling kelas.
Semua menjawab “ Kita harus mencintai pohon dan menyayangi alam”, serentak anak anak kelas 6 A SD Nusa Indah menjawab dengan semangat.
Rasanya baru kemaren saya menjadi sosok anak kecil yang lugu bercerita di depan kelas. Namun sekarang saya sudah menjadi mahasiswa semester 4 yang tumbuh dewasa seiring berkembangnya zaman. Rasa rindu akan suasana kampung halaman masa kecil membuat perasaan ingin bersua kembali muncul dalam hati. 
***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar